Showing posts with label musik. Show all posts
Showing posts with label musik. Show all posts

Nonton Konser Malevolent Creation di Viky Sianipar Music Center

Akhirnya jadi juga gw nonton Malevolent creation, Grup Band asal Amrik yang mengusung aliran musik cadas ini kemarin malam tgl 22 maret 2009 menunjukkan aksi panggungnya di Viky Sianipar Music Center Jln Minangkabau Timur no. 43. awalnya gw berangkat dari rumah dah ga niat gitu, karena cuaca yang gak juga mendukung sampe sore hari bahkan sampe malam masih juga hujan semakin bikin semangat gw terus down. Hujan yang kira-kira dimulai dari jam 15.00 bikin badan gw tambah lemes kurang semangat, bahkan males ngapa-ngapain, rasa-rasanya terus ingin direbahkan di atas kasur.

Setelah makan malam pukul 19.00 tau-tau omen datang dengan seragam kebesarannya untuk nonton konser musik yang dari jauh2 hari memang sudah direncanakan. Ok deh men, kita jalan kebetulan ada satu tiket gratisan, jadi kami hanya membeli satu tiket lagi saja. Cuaca masih juga belum bersahabat, dibawah guyuran hujan kami memaksakan diri untuk berangkat nonton konser musik jenis Death metal itu.

Kami mampir dirumah Tompel untuk mengambil satu tiket undangan yang entah kenapa tidak dipergunakannya. Cuaca malam ini benar-benar tidak bersahabat, kami melewati Jl. Raya Bogor cijantung, ps rebo dan kamipun terjebak macet, disekitaran Hek keramat Jati terjadi banjir hingga hampir selutut orang dewasa, tapi untunglah kami bisa lewat dari kondisi itu. Gw memberanikan diri untuk melihat jam di Hp gw, dah jam 7.30 wah bakalan telat nih.

Disepanjang jalan kamipun berdoa mudah-mudahan panitia disana pake jam karet alias molor acaranya. Dengan ber H2C (Harap-harap Cemas * yah kebanyakan nonton tv lw) kami memasuki kawasan kampung melayu Casablanca kami lanjut ke Jl Dr. Sahardjo dan kamipun tiba di Jl. Minangkabau, Viky Sianipar Music Center ada disebelah kanan jalan, kamipun langsung mencari tempat parkir, gw liat jam lagii ternyata dah jam 20.25 tapi masih ramai juga diluar.

Tibanya di sana kami langsung mencari tempat penjualan tiket/ticket box, dan ternyata benar saja acaranya molor sampai dengan 1setengah jam , setelah kami masuk acara baru akan dimulai dengan band pembuka asal Jakarta Forgotten band beraliran Death Metal asal Jakarta itu langsung mengguncang Hall yang tidak begitu besar itu. Dengan membawakan 5 buah lagu Forgotten tidak henti-hentinya meneriakkan kritik-kritik sosial yang tengah marak akhir-akhir ini.

Setelah istirahat sebentar suasana malam itupun akan semakin tampak meriah disaat Para Personel Group Band Malevolent Creation sang Bintang Panggung Malam ini sedang mensetting peralatan untuk show sebentar lagi. Malam itupun benar-benar sangat meriah disaat mereka mulai mengibaskan rambut-rambut mereka *Headbang Bro… besetan gitar yang seolah seperti suara gemuruh petir yang menyambar juga gebukan Drum menggelegar memenuhi kebisingan Hall mungil tersebut. Suara Growl sang Vokalis bagai memporak porandakan para Penikmat Musik Cadas malam itu. Mereka membawakan sekitar 10 dan 1 lagu untuk bonus karena para Headbanger berteriak-teriak We Want More… We Want More… We Want More…

Acara pun selesai sudah dengan rasa puas kami kembali kerumah untuk siap menjalani aktivitas esok hari. Pffiiuhh….

Malevolent Creation datang ke Jakarta

Promotor Mighty Syndicate segera akan mendatangkan Band Death Metal asal USA, yaitu Malevolent Creation untuk datang ke Indonesia dalam rangka tur promo album Doomsday X ditahun 2009 adapun selain Indonesia mereka juga akan manggung juga di Australia, berikut ini jadwal tur dari Malevolent Creation:

21 March - Surabaya (INDONESIA)
22 March - Jakarta (INDONESIA) Viky Sianipar Music Hall
24 March - SINGAPORE - Art House
27 March - SYDNEY (AUSTRALIA) The Gaelic
28 March - MELBOURNE (AUSTRALIA) The Hi-Fi
29 March - BRISBANE (AUSTRALIA) Rosies

Untuk di Jakarta Group Band ini akan menggelar acara musik di Viky Sianipar Music Center Hall yang ber alamat di Jl. Minangkabau Timur no 43 Manggarai Jakarta Selatan pada tanggal 22 Maret 2009.

Sekedar info saja bahwa album terakhir dari Malevolent Creation yang berjudul Doomsday X belakangan ini baru saja dirilis oleh CSA Records untuk wilayah rilisan negara Indonesia.

Konser Musik bernuansa Religi

Konser Musik yang bernuansa religi

Solidarity Of Palestine

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,

Pada kesempatan setelah bulan mulia Ramadhan tahun ini akan diselenggarakan sebuah acara Konser Musik yang bernuansa religi dan melambangkan nilai-nilai positif budaya suatu bangsa akan di gelar di Jakarta, bersamaan dengan kepercayaan dunia Islam International untuk mengadakan acara Konferensi Kemanusiaan Internasional tentang bantuan bagi anak-anak dan korban penjajahan Palestina. Festival Kebudayaan Internasional berupa pertunjukan konser tersebut akan disaksikan oleh negara-negara peserta konferensi dari Timur Tengah seperti; Palestina, Libanon, Syiria dll, dan dari belahan dunia lainnya, yang sengaja di undang Panitia untuk menikmati pertunjukan kebudayaan bersama masyarakat Indonesia.

Untuk memeriahkan sekaligus memberi bobot kepada acara konser Internasional tersebut, panitia mendatangkan team nasyid Nasional yang tergabung dalam Asosiasi Nasyid Nusantara (ANN) untuk tampil bersama memeriahkan acara tersebut; seperti Izzatul Islam, Shoutul Harokah dll, serta menyandingkan group papan atas pentas seni religi semisal Sulis Cinta Rasul, GIGI*, Opick dll.

Hari / Tanggal : Ahad, 2 November 2008
Waktu : 08.30 – 11.30 WIB
Tempat : Lapangan D, Gelora Bung Karno Senayan Jakarta

Pengisi acara untuk kegiatan ini adalah sebagai berikut:
1. Sulis Cinta Rasul
2. Opick
3. Group Band GIGI
4. Shoutul Harakah (Shouhar)
5. Firqatul I’tisham (Libanon/Palestina)
6. Izzatulislam (IZIS)
7. Ebiet Biet A
8. Justice Voice
9. Dll

Orasi oleh : Dr. Hidayat Nur Wahid

Acara ini akan mentargetkan peserta sebanyak:
1. Penonton 25.000 orang
2. Panitia 250 orang
3. Pengisi acara 200 orang
4. Tamu undangan baik pemerintah maupun swasta
5. NGO International 150 lembaga
6. NGO nasional 150 lembaga


Steering Committee:
- Dr. Adhiyaksa Dault, Menpora RI
- Soeripto SH, Anggota DPR-RI
- Yoyoh Yusroh, Anggota DPR-RI
- KH. Abdul Rosyid AS.*, Pimpinan Asyafiiyah

HTM : Rp. 10.000
Dengan menghadiri acara ini dan membeli tiket masuk seharga di atas, Insya ALLAH berarti rekan-rekan telah beramal untuk Saudara-Saudara kita di Palestine.

Di tunggu kehadirannya ya semuanya.....

HARDIANSYAH
Cinta Rasul Production

Musik Etnik Kontemporer

Kelompok Topa Suguhkan Musik Etnik Kontemporer

Aksi musisi Kelompok Topa dalam pagelaran musik etnik kontemporer di gedung Serapo H Zailani Idris.
Photo: Agri


KutaiKartanegara.com
Irama musik tingkilan dari petikan gambus mengalun begitu ceria diiringi bunyi tetabuhan perkusi yang menghentak-hentak. Para penonton yang sangat familiar dengan irama musik khas Kutai itu spontan memberikan apresiasi dengan tepukan tangan yang meriah.

Seniman Kelompok Topa, Aci dan Andi, saat memainkan komposisi bertajuk Ulak Gong
Photo: Agri


Komposisi musik bertajuk Together (Playing Gambus) ini merupakan sajian pembuka dari pagelaran musik etnik kontemporer yang dibawakan Kelompok Topa di gedung Serapo LPKK H Zailani Idris, Tenggarong, Selasa (30/01) malam lalu.


Selain komposisi berjudul Together (Playing Gambus), Kelompok Topa juga menyuguhkan 4 komposisi lainnya yakni Ritus, Kontradiksi, Kata Kita, dan sebagai pamungkas adalah sajian bertajuk Ulak Gong.


Permainan musik yang dibawakan 4 seniman Kelompok Topa ini berhasil memukau ratusan penonton yang hadir, termasuk di antaranya Asisten III Pemkab Kutai Kartanegara (Kukar) AR Ruznie Oms, Ketua LPKK H Syamsul Khaidir, maupun para seniman di daerah ini.


Yang manarik dalam pagelaran musik ini, Kelompok Topa banyak menggunakan instrumen musik sederhana yang justru banyak ditemukan di sekitar lingkungan rumah. Sebut saja instrumen bernama Beber alias bedug dari ember bekas, Chicken Drum yang merupakan tabung air minum ternak ayam, atau Belflon yang berasal dari alat penggorengan teflon.


"Saya sampai dimarahi istri gara-gara menggunakan teflon ini untuk dijadikan sebagai alat musik," ujar pentolan Kelompok Topa, Tri Andi Yuniarso, saat memperkenalkan alat-alat musik yang akan dimainkan di setiap komposisi.


Kemudian ada pula sebuah instrumen unik yang disebut Jirame. Menurut seniman serbabisa yang akrab disapa Andi ini, alat musik Jirame dikembangkan oleh seniman asal kota Bandung yang merupakan singkatan dari hiji ge rame atau satu juga ramai. "Karena banyak efek suara yang dihasilkan, sehingga alat perkusi ini dinamakan Jirame," jelasnya.


Pagelaran musik etnik kontemporer oleh Kelompok Topa ini memang sangat unik dengan digunakannya peralatan musik sederhana dari barang-barang bekas yang dipadukan dengan sejumlah intrumen musik tradisional.


Tak hanya instrumen musik suku Dayak dan Kutai, musisi Kelompok Topa yang terdiri dari Andi, Yadi, Budy dan Aci ini juga menggunakan alat musik tradisional nusantara dan bahkan dari benua lainnya. Contohnya saja alat musik tiup Didgeridoo khas suku Aborigin di Australia dan Patika yang merupakan alat musik pukul dari benua Afrika.


Menurut Andi, pagelaran musik Kelompok Topa ini dimaksudkan untuk membangkitkan dan menggairahkan seni musik di Kukar, khususnya musik etnik kontemporer. "Kami ingin menunjukkan kepada generasi muda di daerah ini bahwa musik tradisi dapat dikemas menjadi suguhan yang menarik jika dipadukan dengan materi musik di luar kulturnya," ujarnya.


Melalui pagelaran musik ini, Andi berharap agar generasi muda di Kukar semakin mencintai dan mengembangkan seni musik etnik kontemporer. "Tidak perlu alat musik yang mahal, barang-barang bekas yang ada di sekitar rumah bisa kita kreasi menjadi sebuah alat musik," pungkasnya. (win)
Pagelaran musik Kelompok Topa berhasil memukau publik Tenggarong
Photo: Agri

Berita Musik : Mengenalkan Kuping Dengan Musik Etnik

Banyak orang dengan jiwa kosong mencoba mencari penyembuhan melalui instant wisdom, misalnya melalui buku, yang sekali baca moga-moga langsung arif bijaksana. Banyak orang yang penat dengan carut marut suasana kota mencoba pergi ke gunung, ke laut, atau menyepi di sebuah pulau dengan harapan mendapat ketentraman sebuah suasana.

Kurang lebih perasaan seperti itulah yang saya dapat saat menyaksikan pertunjukan musik etnik Internasional (SIEM) di Benteng Vanstenberg Solo beberapa hari yang lalu. Kuping kita lama-kelamaan bisa jenuh juga jika terus-terusan dipakai untuk mendengarkan aliran-aliran musik mainstream yang menganut sistem jualan hingga ratusan ribu copy.

Mendatangi sebuah festival musik etnik juga berarti bersiap menemui bebunyian asing, aneh, dan baru dari alat musik yang tidak pernah kita tahu sebelumnya. Jangan heran kalo “pembuat bunyi” handal seperti I Wayan Sadra bisa mencipta suara yang memekakkan telinga dan menyanyat hati dari gergaji kayu panjang yang digesek-gesek. Atau suara vokal aneh yang keluar dari synthesizer-nya Dwiki Darmawan dipadu dengan beragam alat musik dari seluruh nusantara.

Saya hanyalah salah satu orang yang datang ke festival musik etnik itu sebagai orang awam yang tidak tahu dan tidak pernah mendengarkan musik etnik dari luar negeri maupun dari dalam negeri sendiri. Tapi justru disitulah bagusnya, festival semacam ini bisa menjadi ajang pembelajaran bagi masyarakat awam terhadap musik-musik etnik dan mengenal berbagai bebunyian baru. Tak hanya itu, kolaborasi budaya dalam bentuk musik pun bisa terjadi, Gilang Ramadhan yang banyak mengeksplorasi ritme musik Sunda bisa berkolaborasi dengan Kim Sanders asal Australia yang memainkan bag pipe, alat musik tradisional Bulgaria. Dan penari-penari asal Yunani tetap bisa membawakan tariannya meskipun diiringi oleh musik etnik asal Bengkulu.

Jika di Jakarta banyak anak muda berbondong-bondong mendatangi Java Jazz supaya dianggap keren, gaul, dan berselera musik tinggi karena mendengarkan jazz, maka saya sendiri tidak menampik anggapan bahwa mendatangi festival musik etnik supaya dianggap lebih berbudaya. Lagipula menjadi berbudaya itu lebih baik daripada tak berbudaya tho? Bedanya, Java Jazz hanya dimonopoli oleh orang-orang berduit yang mampu beli tiket seharga setengah juta rupiah dan menjadi ajang snobbish bagi golongan tertentu, sehingga musisi jalanan kelas koin cepek-an yang sebenarnya memahami musik jazz terpaksa tak memiliki kesempatan untuk ikut mengapresiasi.

Sedangkan SIEM memang dibuat untuk masyarakat dari berbagai lapisan, mulai dari pelajar, mahasiswa, pengangguran, seniman, budayawan, walikota, bahkan tukang becak mempunyai kesempatan yang sama untuk mengenal musik etnik dari Indonesia maupun luar negeri. Event besar dan bagus yang memasukkan kata “International” ini bisa ditonton oleh semua orang secara gratis, tak berbayar, dan gratisan bukan berarti rombengan. Dengan kata lain, anda bisa dianggap lebih berbudaya tanpa membayar apa-apa. Ya, di Solo yang mengaku sebagai Kota Budaya, acara semacam festival musik etnik atau pertunjukan budaya lainnya patut diadakan secara rutin.

Direktori Dropship Indonesia

Direktori Dropship Indonesia
Cari Bisnis dan Supplier untuk Binis Dropship di www.dropshiper.id